CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Kamis, 10 April 2014

ASKEP BUNUH DIRI



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Bunuh diri adalah menimbulkan kematian sendiri, paya bunuh diri adalah dengan sengaja melakukan kegiatan tersebut. Bila kegiatan tersebut sampai tuntas akan menyebabkan kematian. Isyarat bunuh diri adalah bunuh diri yang direncanakan untuk usaha mempengaruhi perilaku orang lain. Ancaman bunuh diri adalah suatu peringatan baik secara langsung ataupun tidak langsung, verbal atau non verbal bahwa seseorang sedang mengupayakan bunuh diri.
Bunuh diri dapat merupakan ujung dari hal hal memalukan yang pernah terjadi pada seorang individu.
Secara garis besar ada beberapa proses yang berperan dalam terciptanya suatu perilaku manusia. Pertama adalah proses kognisi yang meliputi : sensasi, persepsi, perhatian, ingatan, asosiasi, pertimbangan, pikiran, dan kesadaran. Kedua adalah unsur kemauan, sedangkan yang ketiga adalah aspek emosi dan afek serta yang terakhir adalah psikomotor. Keempat komponen tersebut pada kenyataannya merupakan satu kesatuan yang sulit dipisahkan serta saling berinteraksi dalam lingkungan internal individu.
Perasaan (mood) merupakan bagian dari emosi dan afek. Seperti halnya kognitif, kemauan, dan psikomotor, maka emosi dan afek juga dapat mengalami gangguan.

1.2  Rumusan Masalah
1.     Apakah pengertian bunuh diri?
2.     Apa sajakah stressor pencetus bunuh diri?
3.     Apa saja faktor yang mempengaruhi bunuh diri?
4.     Bagaimana rentang respon bunuh diri?
5.     Bagaimana pohon masalah bunuh diri?
6.     Apa sumber koping terhadap klien dengan bunuh diri?
7.     Bagaimana mekanisme koping bunuh diri?
8.     Bagaimana asuhan keperawatan terhadap klien bunuh diri?
9.     Apakah pengertian dari gangguan alam perasaan?
10.  Bagaimana rentang respon gangguan alam perasaan?
11.  Apa saja faktor predisposisi dari gangguan alam perasaan?
12.  Apa saja faktor presipitasi gangguan alam perasaan?
13.  Bagaimana mekanisme koping gangguan alam perasaan?
14.  Bagaimana pohon masalah gangguan alam perasaan?
15.  Apa apa sajakah tipe dari gangguan alam perasaan?
16.  Bagaimana askep dengan gangguan alam perasaan?

1.3  Tujuan
a.     Tujuan umum :
1.     Mengetahui pengertian dari bunuh diri
2.     Mengetahui stressor pencetus bunuh diri
3.     Mengetahui faktor yang mempengaruhi bunuh diri
4.     Mengetahui dan mampu menggambarkan rentang respon bunuh diri
5.     Mengetahui dan mampu menentukan pohon masalah dari bunuh diri
6.     Mengetahui sumber koping terhadap klien bunuh diri
7.     Mengetahui dan mampu menyebutkan bagaimana mekanisme koping bunuh diri
8.     Mampu mengetahui menentukan dan melaksanakan asuhan keperawatan dengan klien bunuh diri
9.     Mengetahui apa itu gangguan alam perasaan
10.  Mampu menggambarkan rentang respon gangguan alam perasaan
11.  Mengetahui faktor predisposisi dari gangguan alam perasaan
12.  Mengetahui faktor presipitasi dari gangguan alam perasaan
13.  Mengetahui bagaimana mekanisme koping gangguan alam perasaan
14.  Mampu menentukan pohon masalah gangguan alam perasaan
15.  Mengetahui tipe tipe dari gangguan alam perasaan
16.  Mampu mengetahui menentukan dan melaksanakan asuhan keperawatan dengan klien gangguan alam perasaan

b.     Tujuan khusus            : untuk memenuhi tugas dari mata kuliah keperawatan jiwa dari dosen yang bersangkutan.















BAB II
PEMBAHASAN ASKEP DENGAN BUNUH DIRI
2.1 Pengertian bunuh diri
            Clinton dalam Mental  Health Nursing Practice (1995 : 262) menyebutkan “Suicide : is the act of voluntarily and intentionally taking one’s life. Committing sulcide involves the individual’s conscious wish to be dead and the action required to carry out that wish. Suicidal behaviour are those gestures, attempt, or verbal threats that result in death, injury or pain inflicted upon the self.”
            Pernyataan diatas jika diartikan secara bebas adalah : “ Suatu upaya yang disadari dan bertujuan untuk mengakhiri kehidupan, individu secara sadar berhasrat dan berupaya melaksanakan hasratnya untuk mati. Perilaku bunuh diri meliputi isyarat-isyarat, percobaan atau ancaman verbal, yang akan mengakibatkan kematian, luka, atau menyakiti diri sendiri.”
            Kemudian Stuart Sundeen dalam Principle Psychiatric Nursing (1995 : 866) memberi definsi sebagai berikut : “Suicide ; self inflicted death, suicide attempt  is a deliberate action that, if carried to completion, will result in death. Suicide gesture a suicide attempt that is planned to be discovered in attempt to to influence the behavior of others. Suicide threat;a warning, direct or indirect, verbal or non verbal that the person plans to attempt suicide.”
            Kalimat diatas maksudnya adalah “bunuh diri adalah menimbulkan kematian sendiri, paya bunuh diri adalah dengan sengaja melakukan kegiatan tersebut. Bila kegiatan tersebut sampai tuntas akan menyebabkan kematian. Isyarat bunuh diri adalah bunuh diri yang direncanakan untuk usaha mempengaruhi perilaku orang lain. Ancaman bunuh diri adalah suatu peringatan baik secara langsung ataupun tidak langsung, verbal atau non verbal bahwa seseorang sedang mengupayakan bunuh diri.”
            Bunuh diri adalah segala perbuatan seseorang dnegan sengaja yang tahu akan akibatnya yang dapat megakhiri hidupnya sendiri dalam waktu yang singkat (Maramis, 1998 : 431).
            Jenis bunuh diri yang bisa diidentifikasi, yakni bunuh diri anomik, altruistik, dan egoistik. Bunuh diri anomik adalah bunuh diri yang disebabkan adanya faktor stress dan juga akibat tekanan ekonomi. Faktor lingkungan yang penuh tekanan tampaknya berperan dalam mendorong orang untuk bunuh diri. Kemunkinan terjadinya bunuh diri anomik ini tidak bisa diprediksikan (unpredictable).
            Bunuh diri altruistik berkaitan dengan kehormatan seseorang. “Harakiri” yang sudah membudaya dijepang merupakan bentuk bunuh diri altruistik. Sedangkan bunuh diri egoistik biasanya diakibatkan faktor dari dalam diri seseorang. Putus cinta atau putus harapan kerap membuat seseorang memutuskan mengakhiri hidupnya.
            Jenis egoistik ini kecendrungannya semakin meningkat, walaupun termasuk jenis yang mudah diprediksi (predictable). Perkiraan tersebut bisa dikenali dari cii kepribadian serta respon seseorang terhadap kegagalan. Orang ini umumnya suka meminta perhatian untuk eksistensi dirinya dan sangat tergantung pada orang lain.

2.2 Stressor pencetus bunuh diri
            Stressor pencetus bunuh diri sebagian besar adalah peristiwa memalukan, masalah interpersonal, dipermalukdan didepan umum, kehilangan pekerjaan, ancaman penjara, dan yang paling penting mengetahui cara bunuh diri.  Selain itu, mengetahui seseorang yang telah mencoba melakukan bunuh diri atau membaca melalui media dapat juga membuat individuu makin rentan melakukan bunuh diri.
            Faktor resiko secara psikososial adalah putus asa, jenis kelamin laki laki, ras, lansia, hidup sendiri, klien yang pernah memiliki riwayat bunuh diri, riwayat keluarga bunuh diri, riwayat keluarga adiksi obat.  Secara diagnostik disebabkan oleh penyakit kronik, psikosis, penyalahgunaan zat.


2.3 faktor yang mempengaruhi bunuh diri
·       Faktor mood dan biokimiawi otak
Ghanshyam Pandey berserta timnya dari University of Illinois , Chicago, menemukan bahwa aktivitas enzim didalam pikiran manusia bisa mempengaruhi mood yang memicu keinginan mengakhiri nyawa sendiri. Ditemukan bahwa tingkat aktivitas protein kinase C (PKC) pada otak pelaku bunuh diri lebih rendah dibanding dengan mereka yang meninggal dengan bukan karena bunuh diri. Temuan yang dipublikasikan di jurnal Archives of General Psychiatry menyatakan bahwa PKC merupakan komponen yang berperan dalam komunikasi sel, terhubung erat dengan gangguan mood seperti depresi masa lalu.
·       Faktor riwayat gangguan mental
·       Faktor meniru, imitasi, dan pembelajaran
·       Faktor isolasi sosial dan human relations
·       Faktor hilangnya perasaan aman dan ancaman kebutuhan dasar
·       Faktor religiusitas

2.4 Rentang respon bunuh diri
 


Respon adaptif                                                                                               Respon Maladaptif


 
Peningkatan diri         pertumbuhan             perilaku                      pencederaan              bunuh
                                    -Peningkatan              destruktif                    -diri                             -diri
                                    Beresiko                      -diri tak langsung
2.5 Pohon masalah bunuh diri
bunuh diri

perilaku kekerasan terhadap diri sendiri/ mencederai diri/ resiko bunuh diri

Kejadian kehidupan yang memalukan

2.6 Sumber Koping terhadap bunuh diri
            Banyak bagi pasien dengan penyakit kronik, nyeri, penyakit yang mengancam kehidupan dapat melakukan perilaku destruktif diri hingga bunuh diri. Sering kali orang ini dengan sadar memilih untuk bunuh diri. Kualitas hidup menjadi is yang mengesampingkan kuantitas hidup.
            Dilema etik munkin timbul bagi perawat yang menyadari pilihan pasien yang ingin merusak diri. Tidak ada jawaban dalam mengatasi konflik ini, perawat harus melakukan sesuai dengan sistem keyakinan sendiri.
2.7 Mekanisme koping bunuh diri
            Mekanisme pertahanan ego yang berhubugan dengan perilaku bunuh diri adalah (1) denial , mekanisme koping yang paling menonjol , (2) rasionalisasi , (3) intelektualisasi , (4) regresi.
            Mekanisme petahanan diri tidak seharusnya ditantang tanpa memberikan koping alternatif. Mekanisme pertahanan diri ini munkin berada diantara individu dan bunuh diri.
            Perilaku bunuh diri menunjukkan mendesaknya kegagalan mekanisme koping. Ancaman bunuh diri munkin menunjukkan upaya terakhir untuk mendapatkan pertolongan agar dapat menyelesaikan masalah.
2.8 Asuhan keperawatan dengan bunuh diri
1.     Pengkajian
Perilaku bunuh diri biasanya dibagi menjadi tiga kategori, antara lain :
1.     Ancaman bunuh diri
2.     Upaya bunuh diri
3.     Bunuh diri
Pengkajian pada pasien dengan perilaku bunuh diri adalah :
·       Lingkungan dan upaya bunu diri : kaji peristiwa yang menghina atau menyakitkan, upaya persiapan, ungkapa verbal, catatan, lukisan, memberikan benda yang berharga, obat, penggunaan kekerasan, racun
·       Gejala : catat adanya keputusasaan , celaan terhadap diri sendir, perasaan gagal dan tidak berharga, alam perasaan depresi, agita gelisah, insomnia menetap, BB menurun, bicara lamban, keletihan, withdrawl
·       Penyakit psikiatrik : upaya bunuh diri sebelumnya, kelainan afektif, zat adiktif, depresi remaja, gangguan mental lansia
·       Riwayat psikososial : bercerai, putus hubungan, kehilangan pekerjaan, stress multiple, penyakit kronik
·       Faktor kepribadiaan : impulsif, agresif, bermusuhan, kognisi negatif, harga diri rendah
·       Riwayat keluarga : riwayat bunuh diri, gangguan afektif, alkoholisme

2.      Diagnosa keperawatan
·       Ketidakefektifan koping
·       Perilaku mencederai diri
·       Resiko bunuh diri
·       Harga diri rendah
·       Gangguan citra tubuh
·       Ansietas

3.     Tindakan keperawatan
1.     Listening , kontrak, kolaborasi dengan keluarga
2.     Pahami persoalan dari “kacamata” mereka
3.     Pentingnya partisipasi masyarakat
4.     Express feeling
5.     Lakukan implementasi khusus :
a.     Semua ancaman bunuh diri, secara verbal atau non verbal harus ditanggapi secara serius. Laporkan sesegera munkin dan lakukan tindakan pengamanan
b.     Jauhkan semua benda yang berbahaya dari lingkungan dekat pasien
c.      Jika pasien berisiko tinggi untuk bunuh diri, observasi secara ketat, bahkan ketika ia berada ditempat tidur atau dikamar mandi
d.     Ajarkan pasien mengendalikan dorongan untuk melakukan bunuh diri
e.     Observasi dengan cermat saat pasien minum obat. Periksa mulut pasien untuk memastikan bahwa obat telah ditelan. Berikan obat dalam bentuk cair bila memunkinkan
f.       Jelaskan semua tindak pengamanan kepada pasien. Komnikasikan perhatian dan kepedulian perawat
g.      Waspadailah bila klien tiba-tiba terlihat tenang, kemunkinan rencana bunuh diri telah selesai sehingga menimbulkan kelegaan

Sp 1     : membina hubungan saling percaya dengan pasien , mengidentifikasi hal masa lalu yang munkin memalukan pasien, menjauhkan semua benda yang berbahaya dari lingkungan dekat pasien, kontrak waktu untuk treatment dengan pasien

Sp 2     : mengkomunikasikan perhatian dan kepeduliaan terhadap pasien mengajarkan pasien mengendalikan dorongan bunuh diri , hindari argumentasi dan nasihat,  observasi pasien saat minum obat ( bila pasien sudah mendapatkan terapi obat) , mengidentifikasi aspek positif diri pasien

Sp 3     : membantu pasien melatih aspek positif yang ada di diri pasien, , mengidentifikasi pola koping klien,  mendorong pasien memilih koping yang konstruktif, tawarkan pasien untuk lebih mendekatkan diri kepada yang maha kuasa

Sp 4     : mengevaluasi aspek positif yang telah dilakukan oleh pasien, membicarakan rencana masa depan yang realistis dengan pasien, mengidentifikasi cara mencapai masa depan yang realistis tersebut.

KELUARGA
Sp 1     : membantu keluarga memahami karakter anggota keluarganya yg menderita gangguan jiwa, jelaskan tanda dan gejala resiko bunuh diri dan perilaku bunuh diri yang dialami pasien berserat prosesnya , jelaskan pada keluarga penyebab keinginan bunuh diri dari pasien

Sp 2     : membantu  melatih keluarga cara merawat pasien dengan bunuh diri dirumah, memberi motivasi keluarga agar tidak bersikap apatis terhadap pasien

Sp 3     :  mengevaluasi cara keluarga merawat pasien dengan bunuh diri dirumah, membantu keluarga mencari rujukan yang dapat dijangkau oleh keluarga

BAB III
PEMBAHASAN ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN ALAM PERASAAN
3.1  Pengertian gangguan alam perasaan
Alam perasaan adalah keadaan emosional yang berkepanjangan yang mempengaruhi seluruh kepribadiandan fungsi kehidupan seseorang. (Wahyu P. 2010).Gangguan Alam perasan adalah Kelompok gangguan dimana terjadi gangguan emosi di sertai gejala mania atau depresi ( Rachmawati N. 2002).
Alam perasaan adalah keadaan emosional yang berkepanjangan yang mempengaruhi seluruh kepribadiaan dan fungsi kehidupan seseorang ( Stuart 2006).
Mania adalah suatu gangguan alam perasaan yang di tandai dengan adanya alam perasaan yang meluas,meningkat,bersemangat atau mudah tersinggung.respon ini dapat di tunjukkan dengan prilaku hiperaktif, banyak bicara, tertawa berlebihan dan penyimpangan herpes.( Rachmawati N. 2002).

3.2  Rentang respon gangguan alam perasaan

ResponAdaptif                                                                                                                           ResponMaladaptif
                                                                                                                                      
Responsif            Reaksikehilangan              Supresi                 ReaksiKehilangan                            Mania/
                              Yang Wajar                                                      yang memanjang                             depresi
Keterangan Dari bagan di Atas:
a.      Respon emosi adatif meliputi:
1.      Respon Emosional ( Emosional responsieveness) adalah respon emosi di pengaruhi dengan melibatkan secara aktif dunia eksternal dan internal.ini berarti individu terbuka dan sadar akan perasaan tertentu.
2.      Reaksi kehilangan yang wajar ( Uncomplicated grief reaction) adalah reaksi yang wajar,yang dialami oleh setiap individu menghadapi realita dari kehilangan dan tenggelam di dalam proses kehilangan.Reaksi yang sering tampak adalah:bersedih,berhenti kegiatan sehari-hari.berfokus pada diri sendiri,dan berlangsung tidak lama.

b.      Respon emosi maladatif meliputi:
1.      Supresi emosi (Suppresion of emotions) adalah keadaan dimana individu menyangkal perasaannya.menjauhkan diri dari perasaannya atau menekan semua aspek perasaan terhadap lingkungan,pasien tampak menyangkal perasaan tertentu atau tidak mempengaruhi pasien oleh perasaan tersebut.
2.      Reaksi berduka yang memanjang ( Delayed grief reaction )adalah penyangkalan yang menetap dan memanjang.tetapi tidak tampak reaksi emosi terhadap kehilangan.penundaan dan penolakan proses berduka dapat terjadi beberapa tahun.
3.      Depresi (Melancholia) adalah respon emosi yang maladatif yang ditandai dengan perasaan sedih dan berduka yang berlebihandan berkepanjangan dan dapat digunakan untuk menujukkan berbagai fenomena : tanda,penyebab,gejala,keadaan emosional,reaksi,penyakit atau kondisi klinik secara menyeluruh.
4.      Mania adalah keadaan yang ditandai oleh peningkatan,perluasan alam perasaan atau keadaan alam perasaan yang mudah tersinggung dan terangsang.mania dapat digambarkan sama dengan gejala diatas tetapi tidak seberat dengan keadaan mania atau episode mania.
       Mania dan depresi merupakan fokus bahasan pada makalah ini. Kedua hal ini merupakan respon emosi yang mal adaptif berat dan dapat dikenal melalui intensitas, rembetan, terus-menerus dan pengaruhnya pada fungsi sosial dan fisik individu. Istilah depresi dipakai untuk tanda dan gejala keadaan klinik sesungguhnya.
Gangguan alam perasaan menurut DSM –III R. Dibagi dalam dua kategori (dikutip dari Wilson dan Kneisl,1987,hlm 428) yaitu :
1.    Gangguan bipolar  :
a). Gangguan bipolar (campuran manik,depresi).
b). Siklotimia.
2.    Gangguan depresi
a). Major depresi ( satu episode,berulang).
b). Distimia.

3.3   Faktor presdiposisi gangguan alam perasaan
1.      genetic faktor
2.      teori agresi berbalik pada diri sendiri
3.      teori kehilangan
4.      teori kepribadian
5.      teori kognitif
6.      model ketidakberdayaan
7.      model perilaku
8.      model biologi

3.4   Faktor presipitasi gangguan alam perasaan
Ada empat  faktor yang menyababkan gangguan alam perasaan :
1)     Kehilangan kasih sayang secara nyata atau bayangan,termasuk kehilangan cinta seseorang,fungsi tubuh,status atau harga diri.
2)     Banyaknya peran dan konflik peran mempengaruhi berkembangnya depresi terutama pada wanita
3)     Kejadian penting dalam kehidupan,sering kali sebagai keadaan yang mempengaruhi  episode depresi dan mempunyai dampak pada individu untuk menyelesaikan masalah.
4)     Sumber koping termasuk status sosial ekonomi,keluarga,hubungan interpersonal dan organisasi kemasyarakatan


3.5  Mekanisme koping
Mekanisme koping yang di gunakan pada reaksi berduka yang tertunda adalah penyangkalan dan supresi yang berlebihan unyuk menghindari distress hebat yang berhubungan dengan berduka. Pada depresi menggunakan mekanisme denial, represi, supresi dan disosiasi. Mania merupakan cerminan dari depresi walaupun perilajunya tidak sama namun dinamika dan mekanisme koping yang digunakan saling berhubungan.

3.6  Pohon masalah
Kerusakaankomunikasiverbal                     (akibat)

Gangguanalamperasaan  :depresi             (care problem)

Ketidak berdayaan : mengambil keputusan            (penyebab)

3.7   tipe-tipe gangguan alam perasaan
1. Mood episode
a.    Mayor depressive episode
Untuk diagnosis kelompok ini terdapat lima atau lebih gejala-gejala yang di tampilkan selama periode dua minggu dan menampilkan perubahan fungsi dari fungsi sebelumnya paling sedikit dari gejala tersebut adalah salah satu dari dua hal berikut
1)             Perasaan depresif
2)             Kehilangan ketertarikan terhadap kesenangan
b.  Manic episode
Manic episode ditandai dengan periode gangguan yang nyata dan peningkatan secara menetap, meluap-luap atau mood yang mudah terangsang selama satu minggu (atau beberapa periode saat dirumah sakit juga penting). Selama periode gangguan, tiga atau lebih gejala-gejala berikut telah menetap dan telah nampak dalam tingkat yang berarti :
1.              Melambungnya harga diri.
2.              Menurunnya kebutuhan untuk tidur.
3.              Lebih banyak bicara dibanding biasanya.
4.              Ide yang meloncat perhatian yang mudah teralih.
5.              Peningkatan dalam perilaku yang bertujuan.
6.              Keterlibatan yang berlibihan yang mengakibatkan cidera.


c. Tipe lainnya
Tipe lainnya dari episode mood meliputi mixed episode dan hypomanic episode pada mixed episode, kriterianya merupakan perpaduan antara manic episode dan mayor depressive episode. Sedangkan pada hypomanic episode secara jelas menunjukkan meningkatkan mood yang berbeda dari mood non depressive yang biasa tetapi tidak dikelompokkan sebagai episode manic.

2.       Depressive disorders
a.       Mayor Depressive Disorder 
mayor dapat berupa episode berulang atau  episode tunggal.
b.      Dysthymic Disorder
dalam diagnostic and staticial manual of mental disorder kondisi kelompok ini dikenal dengan depressi neurosis.

3.       Bipolar Disorders
a.       Bipolar disordes
Klien dengan type biplar mendemonstrasukan kekuatan (strong), meluap luap (exaggregated) dan menggambarkan siklus irama mood (cyclid mood swings).

Cyclothynic disordes
Indifidu dengan kelainan cyclothnic cenderung untuk mengalami irama mood di antara exhilaration and depresion ( kerianggan dan depresif).

3.8   Asuhan keperawatan dengan gangguan alam perasaan
Diagnosa Keperawatan
Diagnosan yang muncul pada ganggan alam perasaan antara lain :
1.      Kerusakan komunikasi verbal
2.      Gangguanalampersaan :depresi
3.      Ketidakberdayaan mengambil keputusan

Tindakan keperawatan
1.      Lingkungan
Prioritas utama dalam merawat klien mania dan depresi adalah mencegah terjadinya kecelakaan, karena klien mania memiliki daya nilai yang rendah, hiper aktif, senang tindakan yang beresiko tinggi. Maka klien di tempatkan di lingkungan yang aman yaitu:
a)     Di lantai dasar
b)     Ruangan dengan prabotan sederhana
c)      Kurangi rangsangan/batasi rangsangan lingkungan
d)     Suasana tenang

2.      Hubungan perawat dengan klien
Hubungan yang saling percaya yang terapetik perlu  dibina dan diperhatikan. Bekerja dengan klien depresi perawat harus bersifat:
1.      Hanggat
2.      Menerima
3.      Jujur pengharapan pada klien.
4.      Bicara lambat sederhana
5.      Beri waktu pada klien untuk berfikir dan menjawab.

3.      Afektif
Kesadaran dan kontrol diri perawat pada dirinya merupakan sarat utama. Merawat klien depresi, perawat harus mempunyai harapan bahwa klien akan lebih baik, sikap perawat yang menerima klien dengan baik, sederhana akan mengekspresikan pengharapan pada klien. Prinsip intervensi yang afektif adalah:
1.      Menerima dan menenangkan klien
2.      Bukan menggembirakan atau mengatakan bahwa klien tidak perlu khawatir.
3.      Klien di dorong untuk mengekspresikan pengalaman yang menyakitkan dan menyedikan secara verbal, sehingga akan mengurangi intensitas masalah yang dihadapi.

4.      Kongnitif
Intervensi yang kongnitif bertujuan untuk meningkatkan kontrol diri klien terhadap tujuan dan perilakunya, meningkatkan harga diri dan memdbantu klien memodifikasi harapan yang negatif.
Berikut cara untuk meribah fikiran yang negatif:
·       Identifikasi semua ide, pikiran yang negatif
·       Identifikasi aspek positif yang dimiliki klien (kemampuan, keberhasilan)
·       Dorong klien menilai persepsi,logika,rasional
·       Bantu klien mengubah persepsi yang salah/negatif ke ke positif dan tidak realitas ke realitas
·       Sertakan klien pada aktifitas yang memperlihatkan hasil dan beri penguatan dan pujian akan keberhasilan yang dicapai klien
5.      Perilaku.
Intervensi perilaku bertujuan untuk mengaktifkan klien pada tujuan yang realitas yaitu dengan memberi tanggung jawab secara bertahap dalam kegiatan diruangan. Klien depresi berat dengan penurunan motivasi perlu dibuat kegiatan yang terstruktur,tugas yang diberikan tidak sulit dan tidak  memerlukan waktu yang lama untuk mencegah rasa bosan,berikan pujian jika klien berhasil melakukan kegiatan dengan baik.pada klien mania diberikan tugas yang sederhana dan cepat selesai.
6.      Sosial
Intervensi sosial bertujuan untuk meningkatkan berhubungan dengan sosial dengan cara
v Kaji kemampuan,dukungan dan minat klien
v Observasi dan kaji sumber dukungan yang ada pada klien
v Bimbing klien melakukan hubungan interpersonal yang positif
v Beri reinforcement positif terhadap keterampilan sosial yang efektif
v Dorong klien memulai hubngan sosial yang lebih luas (perawat,klien lain ).
7.      Fisiologis                                                    
Intervensi fisiologis bertujuan untuk meningkatkan status kesehatan klien. Bila klien tidak mampu merawat diri, bantu klien tidak mampu merawata diri,bantu klien memenuhi kebetuhan dasarnya seperti makanan,minum istirahat dan kebersihan diri. Terapi somatik diberikan pada klien yang mengalami depresi berulang dan resisten terhadap obat.

Evaluasi
Adanya perubahan respon emosi maladaptif kearah adaptif, dimana klien dapat:
1.      Menerima dan mengakui perasaannya dan perasaan orang lain
2.      Memulai komunikasi
3.      Mengontrol perilaku sesuai keterbatasannya
4.      Menggunakan proses pemecahan masalah









BAB IV
PENUTUP
4.1  Kesimpulan
Bunuh diri adalah segala perbuatan seseorang dnegan sengaja yang tahu akan akibatnya yang dapat megakhiri hidupnya sendiri dalam waktu yang singkat. Stressor pencetus biasanya merupakan kejadian memalukan, masalah interpersonal, dipermalukan didepan umum, kehilangan pekerjaan, ancaman dikurung dan mengetahui cara bunuh diri. Sedangkan faktor risiko dari bunuh diri adalah putus asa, ras, jenis kelamin laki laki, hidup sendiri, memiliki riwayat bunuh diri, memiliki riwayat keluarga dengan bunuh diri, penyakit kronis.
Gangguan alam perasaan adalah kelainan psikologis yang ditandai meluasnya irama emosional seseorang, mulai dari rentang depresi sampai gembira yang berlebihan (euphoria) dan gerak yang berlebihan (agitation). Depresi dapat terjadi secara tunggal dalam bentuk mayor depresi atau dalam bentuk lain seperti mania sebagai gangguan tipe bipolar. Depresi terdapat klasifikasi dan tingkatan nya. Tanda dan gejala yang timbul pada depresi bisa bermacam-macam karena tiap individu itu unik.

4.2  Saran
Sebagai tenaga kesehatan, khusunya perawat dan mahasiswa keperawatan maka dalam kehidupan sehari hari bila terdapat individu dilingkungan sekitar dengan tanda dan gejala yang menuju kepada respon maladaptif hendaknya dapat diberikan pertolongan sehingga tidak terjadi hal hal yang tidak diharapkan seperti adanya ganggan alam perasaan hingga bunuh diri.