BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bunuh diri adalah menimbulkan kematian sendiri, paya
bunuh diri adalah dengan sengaja melakukan kegiatan tersebut. Bila kegiatan
tersebut sampai tuntas akan menyebabkan kematian. Isyarat bunuh diri adalah
bunuh diri yang direncanakan untuk usaha mempengaruhi perilaku orang lain.
Ancaman bunuh diri adalah suatu peringatan baik secara langsung ataupun tidak
langsung, verbal atau non verbal bahwa seseorang sedang mengupayakan bunuh
diri.
Bunuh diri dapat merupakan ujung dari hal hal
memalukan yang pernah terjadi pada seorang individu.
Secara garis besar ada beberapa proses yang berperan
dalam terciptanya suatu perilaku manusia. Pertama adalah proses kognisi yang
meliputi : sensasi, persepsi, perhatian, ingatan, asosiasi, pertimbangan,
pikiran, dan kesadaran. Kedua adalah unsur kemauan, sedangkan yang ketiga
adalah aspek emosi dan afek serta yang terakhir adalah psikomotor. Keempat
komponen tersebut pada kenyataannya merupakan satu kesatuan yang sulit
dipisahkan serta saling berinteraksi dalam lingkungan internal individu.
Perasaan (mood) merupakan bagian dari emosi dan afek.
Seperti halnya kognitif, kemauan, dan psikomotor, maka emosi dan afek juga
dapat mengalami gangguan.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Apakah
pengertian bunuh diri?
2.
Apa
sajakah stressor pencetus bunuh diri?
3.
Apa
saja faktor yang mempengaruhi bunuh diri?
4.
Bagaimana
rentang respon bunuh diri?
5.
Bagaimana
pohon masalah bunuh diri?
6.
Apa
sumber koping terhadap klien dengan bunuh diri?
7.
Bagaimana
mekanisme koping bunuh diri?
8.
Bagaimana
asuhan keperawatan terhadap klien bunuh diri?
9.
Apakah
pengertian dari gangguan alam perasaan?
10. Bagaimana rentang respon gangguan
alam perasaan?
11. Apa saja faktor predisposisi dari
gangguan alam perasaan?
12. Apa saja faktor presipitasi gangguan
alam perasaan?
13. Bagaimana mekanisme koping gangguan
alam perasaan?
14. Bagaimana pohon masalah gangguan alam
perasaan?
15. Apa apa sajakah tipe dari gangguan
alam perasaan?
16. Bagaimana askep dengan gangguan alam
perasaan?
1.3 Tujuan
a.
Tujuan umum :
1. Mengetahui pengertian dari bunuh diri
2. Mengetahui stressor pencetus bunuh
diri
3. Mengetahui faktor yang mempengaruhi
bunuh diri
4. Mengetahui dan mampu menggambarkan
rentang respon bunuh diri
5. Mengetahui dan mampu menentukan pohon
masalah dari bunuh diri
6. Mengetahui sumber koping terhadap
klien bunuh diri
7. Mengetahui dan mampu menyebutkan
bagaimana mekanisme koping bunuh diri
8. Mampu mengetahui menentukan dan
melaksanakan asuhan keperawatan dengan klien bunuh diri
9. Mengetahui apa itu gangguan alam
perasaan
10. Mampu menggambarkan rentang respon
gangguan alam perasaan
11. Mengetahui faktor predisposisi dari
gangguan alam perasaan
12. Mengetahui faktor presipitasi dari
gangguan alam perasaan
13. Mengetahui bagaimana mekanisme koping
gangguan alam perasaan
14. Mampu menentukan pohon masalah
gangguan alam perasaan
15. Mengetahui tipe tipe dari gangguan
alam perasaan
16. Mampu mengetahui menentukan dan
melaksanakan asuhan keperawatan dengan klien gangguan alam perasaan
b. Tujuan khusus : untuk memenuhi tugas dari mata kuliah keperawatan jiwa
dari dosen yang bersangkutan.
BAB II
PEMBAHASAN ASKEP DENGAN BUNUH DIRI
2.1 Pengertian bunuh diri
Clinton dalam Mental Health Nursing Practice (1995 : 262)
menyebutkan “Suicide : is the act of voluntarily
and intentionally taking one’s life. Committing sulcide involves the
individual’s conscious wish to be dead and the action required to carry out
that wish. Suicidal behaviour are those gestures, attempt, or verbal threats
that result in death, injury or pain inflicted upon the self.”
Pernyataan
diatas jika diartikan secara bebas adalah : “ Suatu upaya yang disadari dan
bertujuan untuk mengakhiri kehidupan, individu secara sadar berhasrat dan
berupaya melaksanakan hasratnya untuk mati. Perilaku bunuh diri meliputi
isyarat-isyarat, percobaan atau ancaman verbal, yang akan mengakibatkan kematian,
luka, atau menyakiti diri sendiri.”
Kemudian
Stuart Sundeen dalam Principle Psychiatric Nursing (1995 :
866) memberi definsi sebagai berikut : “Suicide ; self inflicted death, suicide
attempt is a deliberate action that, if
carried to completion, will result in death. Suicide gesture a suicide attempt
that is planned to be discovered in attempt to to influence the behavior of
others. Suicide threat;a warning, direct or indirect, verbal or non verbal that
the person plans to attempt suicide.”
Kalimat
diatas maksudnya adalah “bunuh diri adalah menimbulkan kematian sendiri, paya
bunuh diri adalah dengan sengaja melakukan kegiatan tersebut. Bila kegiatan
tersebut sampai tuntas akan menyebabkan kematian. Isyarat bunuh diri adalah
bunuh diri yang direncanakan untuk usaha mempengaruhi perilaku orang lain.
Ancaman bunuh diri adalah suatu peringatan baik secara langsung ataupun tidak
langsung, verbal atau non verbal bahwa seseorang sedang mengupayakan bunuh
diri.”
Bunuh
diri adalah segala perbuatan seseorang dnegan sengaja yang tahu akan akibatnya
yang dapat megakhiri hidupnya sendiri dalam waktu yang singkat (Maramis, 1998 : 431).
Jenis
bunuh diri yang bisa diidentifikasi, yakni bunuh diri anomik, altruistik, dan
egoistik. Bunuh diri anomik adalah bunuh diri yang disebabkan adanya faktor
stress dan juga akibat tekanan ekonomi. Faktor lingkungan yang penuh tekanan
tampaknya berperan dalam mendorong orang untuk bunuh diri. Kemunkinan
terjadinya bunuh diri anomik ini tidak bisa diprediksikan (unpredictable).
Bunuh
diri altruistik berkaitan dengan kehormatan seseorang. “Harakiri” yang sudah
membudaya dijepang merupakan bentuk bunuh diri altruistik. Sedangkan bunuh diri
egoistik biasanya diakibatkan faktor dari dalam diri seseorang. Putus cinta
atau putus harapan kerap membuat seseorang memutuskan mengakhiri hidupnya.
Jenis
egoistik ini kecendrungannya semakin meningkat, walaupun termasuk jenis yang
mudah diprediksi (predictable). Perkiraan tersebut bisa dikenali dari cii
kepribadian serta respon seseorang terhadap kegagalan. Orang ini umumnya suka
meminta perhatian untuk eksistensi dirinya dan sangat tergantung pada orang
lain.
2.2 Stressor pencetus bunuh diri
Stressor
pencetus bunuh diri sebagian besar adalah peristiwa memalukan, masalah
interpersonal, dipermalukdan didepan umum, kehilangan pekerjaan, ancaman
penjara, dan yang paling penting mengetahui cara bunuh diri. Selain itu, mengetahui seseorang yang telah
mencoba melakukan bunuh diri atau membaca melalui media dapat juga membuat
individuu makin rentan melakukan bunuh diri.
Faktor
resiko secara psikososial adalah putus asa, jenis kelamin laki laki, ras,
lansia, hidup sendiri, klien yang pernah memiliki riwayat bunuh diri, riwayat
keluarga bunuh diri, riwayat keluarga adiksi obat. Secara diagnostik disebabkan oleh penyakit
kronik, psikosis, penyalahgunaan zat.
2.3 faktor yang mempengaruhi bunuh
diri
· Faktor mood dan biokimiawi otak
Ghanshyam Pandey berserta
timnya dari University of Illinois , Chicago, menemukan bahwa aktivitas enzim
didalam pikiran manusia bisa mempengaruhi mood yang memicu keinginan mengakhiri
nyawa sendiri. Ditemukan bahwa tingkat aktivitas protein kinase C (PKC) pada
otak pelaku bunuh diri lebih rendah dibanding dengan mereka yang meninggal
dengan bukan karena bunuh diri. Temuan yang dipublikasikan di jurnal Archives
of General Psychiatry menyatakan bahwa PKC merupakan komponen yang berperan
dalam komunikasi sel, terhubung erat dengan gangguan mood seperti depresi masa
lalu.
· Faktor riwayat gangguan mental
· Faktor meniru, imitasi, dan
pembelajaran
· Faktor isolasi sosial dan human
relations
· Faktor hilangnya perasaan aman dan
ancaman kebutuhan dasar
· Faktor religiusitas
2.4 Rentang respon bunuh diri
Peningkatan diri pertumbuhan perilaku pencederaan bunuh
-Peningkatan destruktif -diri -diri
Beresiko -diri tak langsung
2.5 Pohon masalah bunuh diri
Kejadian kehidupan yang memalukan
2.6 Sumber Koping terhadap bunuh diri
Banyak
bagi pasien dengan penyakit kronik, nyeri, penyakit yang mengancam kehidupan
dapat melakukan perilaku destruktif diri hingga bunuh diri. Sering kali orang
ini dengan sadar memilih untuk bunuh diri. Kualitas hidup menjadi is yang
mengesampingkan kuantitas hidup.
Dilema
etik munkin timbul bagi perawat yang menyadari pilihan pasien yang ingin
merusak diri. Tidak ada jawaban dalam mengatasi konflik ini, perawat harus
melakukan sesuai dengan sistem keyakinan sendiri.
2.7 Mekanisme koping bunuh diri
Mekanisme
pertahanan ego yang berhubugan dengan perilaku bunuh diri adalah (1) denial ,
mekanisme koping yang paling menonjol , (2) rasionalisasi , (3)
intelektualisasi , (4) regresi.
Mekanisme
petahanan diri tidak seharusnya ditantang tanpa memberikan koping alternatif.
Mekanisme pertahanan diri ini munkin berada diantara individu dan bunuh diri.
Perilaku
bunuh diri menunjukkan mendesaknya kegagalan mekanisme koping. Ancaman bunuh
diri munkin menunjukkan upaya terakhir untuk mendapatkan pertolongan agar dapat
menyelesaikan masalah.
2.8 Asuhan keperawatan dengan bunuh
diri
1.
Pengkajian
Perilaku bunuh diri
biasanya dibagi menjadi tiga kategori, antara lain :
1. Ancaman bunuh diri
2. Upaya bunuh diri
3. Bunuh diri
Pengkajian pada pasien
dengan perilaku bunuh diri adalah :
· Lingkungan dan upaya bunu diri : kaji
peristiwa yang menghina atau menyakitkan, upaya persiapan, ungkapa verbal,
catatan, lukisan, memberikan benda yang berharga, obat, penggunaan kekerasan,
racun
· Gejala : catat adanya keputusasaan ,
celaan terhadap diri sendir, perasaan gagal dan tidak berharga, alam perasaan
depresi, agita gelisah, insomnia menetap, BB menurun, bicara lamban, keletihan,
withdrawl
· Penyakit psikiatrik : upaya bunuh
diri sebelumnya, kelainan afektif, zat adiktif, depresi remaja, gangguan mental
lansia
· Riwayat psikososial : bercerai, putus
hubungan, kehilangan pekerjaan, stress multiple, penyakit kronik
· Faktor kepribadiaan : impulsif, agresif,
bermusuhan, kognisi negatif, harga diri rendah
· Riwayat keluarga : riwayat bunuh
diri, gangguan afektif, alkoholisme
2.
Diagnosa keperawatan
· Ketidakefektifan koping
· Perilaku mencederai diri
· Resiko bunuh diri
· Harga diri rendah
· Gangguan citra tubuh
· Ansietas
3.
Tindakan keperawatan
1. Listening , kontrak, kolaborasi
dengan keluarga
2. Pahami persoalan dari “kacamata”
mereka
3. Pentingnya partisipasi masyarakat
4. Express feeling
5. Lakukan implementasi khusus :
a. Semua ancaman bunuh diri, secara
verbal atau non verbal harus ditanggapi secara serius. Laporkan sesegera munkin
dan lakukan tindakan pengamanan
b. Jauhkan semua benda yang berbahaya
dari lingkungan dekat pasien
c. Jika pasien berisiko tinggi untuk
bunuh diri, observasi secara ketat, bahkan ketika ia berada ditempat tidur atau
dikamar mandi
d. Ajarkan pasien mengendalikan dorongan
untuk melakukan bunuh diri
e. Observasi dengan cermat saat pasien
minum obat. Periksa mulut pasien untuk memastikan bahwa obat telah ditelan.
Berikan obat dalam bentuk cair bila memunkinkan
f. Jelaskan semua tindak pengamanan
kepada pasien. Komnikasikan perhatian dan kepedulian perawat
g. Waspadailah bila klien tiba-tiba
terlihat tenang, kemunkinan rencana bunuh diri telah selesai sehingga
menimbulkan kelegaan
Sp 1 :
membina hubungan saling percaya dengan pasien , mengidentifikasi hal masa lalu
yang munkin memalukan pasien, menjauhkan semua benda yang berbahaya dari
lingkungan dekat pasien, kontrak waktu untuk treatment dengan pasien
Sp 2 :
mengkomunikasikan perhatian dan kepeduliaan terhadap pasien mengajarkan pasien
mengendalikan dorongan bunuh diri , hindari argumentasi dan nasihat, observasi pasien saat minum obat ( bila pasien
sudah mendapatkan terapi obat) , mengidentifikasi aspek positif diri pasien
Sp 3 :
membantu pasien melatih aspek positif yang ada di diri pasien, ,
mengidentifikasi pola koping klien, mendorong
pasien memilih koping yang konstruktif, tawarkan pasien untuk lebih mendekatkan
diri kepada yang maha kuasa
Sp 4 :
mengevaluasi aspek positif yang telah dilakukan oleh pasien, membicarakan
rencana masa depan yang realistis dengan pasien, mengidentifikasi cara mencapai
masa depan yang realistis tersebut.
KELUARGA
Sp 1 :
membantu keluarga memahami karakter anggota keluarganya yg menderita gangguan
jiwa, jelaskan tanda dan gejala resiko bunuh diri dan perilaku bunuh diri yang
dialami pasien berserat prosesnya , jelaskan pada keluarga penyebab keinginan
bunuh diri dari pasien
Sp 2 :
membantu melatih keluarga cara merawat
pasien dengan bunuh diri dirumah, memberi motivasi keluarga agar tidak bersikap
apatis terhadap pasien
Sp 3 : mengevaluasi cara keluarga merawat pasien
dengan bunuh diri dirumah, membantu keluarga mencari rujukan yang dapat
dijangkau oleh keluarga
BAB III
PEMBAHASAN ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN ALAM PERASAAN
3.1 Pengertian gangguan alam perasaan
Alam perasaan adalah keadaan emosional
yang berkepanjangan yang mempengaruhi seluruh kepribadiandan fungsi kehidupan
seseorang. (Wahyu P. 2010).Gangguan Alam perasan adalah Kelompok gangguan
dimana terjadi gangguan emosi di sertai gejala mania atau depresi ( Rachmawati N.
2002).
Alam perasaan adalah keadaan emosional
yang berkepanjangan yang mempengaruhi seluruh kepribadiaan dan fungsi kehidupan
seseorang ( Stuart 2006).
Mania adalah suatu gangguan alam
perasaan yang di tandai dengan adanya alam perasaan yang meluas,meningkat,bersemangat
atau mudah tersinggung.respon ini dapat di tunjukkan dengan prilaku hiperaktif,
banyak bicara, tertawa berlebihan dan penyimpangan herpes.( Rachmawati N.
2002).
3.2 Rentang respon
gangguan alam perasaan
Responsif Reaksikehilangan Supresi ReaksiKehilangan Mania/
Yang
Wajar yang
memanjang depresi
Keterangan Dari
bagan di Atas:
a.
Respon emosi adatif meliputi:
1. Respon Emosional ( Emosional
responsieveness) adalah respon emosi di pengaruhi dengan melibatkan secara
aktif dunia eksternal dan internal.ini berarti individu terbuka dan sadar akan
perasaan tertentu.
2. Reaksi kehilangan yang wajar (
Uncomplicated grief reaction) adalah reaksi yang wajar,yang dialami oleh setiap
individu menghadapi realita dari kehilangan dan tenggelam di dalam proses
kehilangan.Reaksi yang sering tampak adalah:bersedih,berhenti kegiatan
sehari-hari.berfokus pada diri sendiri,dan berlangsung tidak lama.
b.
Respon emosi maladatif meliputi:
1. Supresi emosi (Suppresion of emotions)
adalah keadaan dimana individu menyangkal perasaannya.menjauhkan diri dari
perasaannya atau menekan semua aspek perasaan terhadap lingkungan,pasien tampak
menyangkal perasaan tertentu atau tidak mempengaruhi pasien oleh perasaan
tersebut.
2. Reaksi berduka yang memanjang (
Delayed grief reaction )adalah penyangkalan yang menetap dan memanjang.tetapi
tidak tampak reaksi emosi terhadap kehilangan.penundaan dan penolakan proses
berduka dapat terjadi beberapa tahun.
3. Depresi (Melancholia) adalah respon
emosi yang maladatif yang ditandai dengan perasaan sedih dan berduka yang
berlebihandan berkepanjangan dan dapat digunakan untuk menujukkan berbagai
fenomena : tanda,penyebab,gejala,keadaan emosional,reaksi,penyakit atau kondisi
klinik secara menyeluruh.
4. Mania adalah keadaan yang ditandai
oleh peningkatan,perluasan alam perasaan atau keadaan alam perasaan yang mudah
tersinggung dan terangsang.mania dapat digambarkan sama dengan gejala diatas
tetapi tidak seberat dengan keadaan mania atau episode mania.
Mania dan depresi merupakan fokus
bahasan pada makalah ini. Kedua hal ini merupakan respon emosi yang mal adaptif
berat dan dapat dikenal melalui intensitas, rembetan, terus-menerus dan pengaruhnya
pada fungsi sosial dan fisik individu. Istilah depresi dipakai untuk tanda dan
gejala keadaan klinik sesungguhnya.
Gangguan alam perasaan menurut DSM
–III R. Dibagi dalam dua kategori (dikutip dari Wilson dan Kneisl,1987,hlm 428)
yaitu :
1. Gangguan bipolar :
a). Gangguan bipolar (campuran manik,depresi).
b). Siklotimia.
2. Gangguan depresi
a). Major depresi ( satu episode,berulang).
b). Distimia.
3.3
Faktor presdiposisi gangguan alam
perasaan
1.
genetic faktor
2.
teori agresi berbalik pada diri sendiri
3.
teori kehilangan
4.
teori kepribadian
5.
teori kognitif
6.
model ketidakberdayaan
7.
model perilaku
8.
model biologi
3.4
Faktor presipitasi gangguan alam perasaan
Ada empat faktor yang menyababkan gangguan alam
perasaan :
1) Kehilangan kasih sayang secara nyata
atau bayangan,termasuk kehilangan cinta seseorang,fungsi tubuh,status atau
harga diri.
2) Banyaknya peran dan konflik peran
mempengaruhi berkembangnya depresi terutama pada wanita
3) Kejadian penting
dalam kehidupan,sering kali sebagai keadaan yang mempengaruhi episode depresi dan mempunyai dampak pada
individu untuk menyelesaikan masalah.
4) Sumber koping
termasuk status sosial ekonomi,keluarga,hubungan interpersonal dan organisasi
kemasyarakatan
3.5 Mekanisme koping
Mekanisme
koping yang di gunakan pada reaksi berduka yang tertunda adalah penyangkalan
dan supresi yang berlebihan unyuk menghindari distress hebat yang berhubungan
dengan berduka. Pada depresi menggunakan mekanisme denial, represi, supresi dan
disosiasi. Mania merupakan cerminan dari depresi walaupun perilajunya tidak
sama namun dinamika dan mekanisme koping yang digunakan saling berhubungan.
3.6 Pohon masalah
Ketidak berdayaan : mengambil keputusan (penyebab)
3.7
tipe-tipe gangguan alam perasaan
1. Mood episode
a. Mayor depressive episode
Untuk diagnosis kelompok ini terdapat
lima atau lebih gejala-gejala yang di tampilkan selama periode dua minggu dan
menampilkan perubahan fungsi dari fungsi sebelumnya paling sedikit dari gejala
tersebut adalah salah satu dari dua hal berikut
1)
Perasaan
depresif
2)
Kehilangan
ketertarikan terhadap kesenangan
b.
Manic episode
Manic episode ditandai dengan periode
gangguan yang nyata dan peningkatan secara menetap, meluap-luap atau mood yang
mudah terangsang selama satu minggu (atau beberapa periode saat dirumah sakit
juga penting). Selama periode gangguan, tiga atau lebih gejala-gejala berikut
telah menetap dan telah nampak dalam tingkat yang berarti :
1.
Melambungnya
harga diri.
2.
Menurunnya
kebutuhan untuk tidur.
3.
Lebih
banyak bicara dibanding biasanya.
4.
Ide
yang meloncat perhatian yang mudah teralih.
5.
Peningkatan
dalam perilaku yang bertujuan.
6.
Keterlibatan
yang berlibihan yang mengakibatkan cidera.
c. Tipe lainnya
Tipe lainnya dari episode mood
meliputi mixed episode dan hypomanic episode pada mixed episode, kriterianya
merupakan perpaduan antara manic episode dan mayor depressive episode.
Sedangkan pada hypomanic episode secara jelas menunjukkan meningkatkan mood
yang berbeda dari mood non depressive yang biasa tetapi tidak dikelompokkan
sebagai episode manic.
2. Depressive
disorders
a. Mayor Depressive
Disorder
mayor dapat berupa episode berulang
atau episode tunggal.
b. Dysthymic Disorder
dalam diagnostic and staticial manual
of mental disorder kondisi kelompok ini dikenal dengan depressi neurosis.
3. Bipolar Disorders
a. Bipolar disordes
Klien dengan type biplar
mendemonstrasukan kekuatan (strong), meluap luap (exaggregated) dan
menggambarkan siklus irama mood (cyclid mood swings).
Cyclothynic disordes
Indifidu dengan kelainan cyclothnic
cenderung untuk mengalami irama mood di antara exhilaration and depresion (
kerianggan dan depresif).
3.8
Asuhan keperawatan dengan gangguan alam
perasaan
Diagnosa Keperawatan
Diagnosan yang
muncul pada ganggan alam perasaan antara lain :
1. Kerusakan komunikasi
verbal
2. Gangguanalampersaan
:depresi
3. Ketidakberdayaan mengambil
keputusan
Tindakan keperawatan
1. Lingkungan
Prioritas utama dalam merawat klien
mania dan depresi adalah mencegah terjadinya kecelakaan, karena klien mania
memiliki daya nilai yang rendah, hiper aktif, senang tindakan yang beresiko
tinggi. Maka klien di tempatkan di lingkungan yang aman yaitu:
a)
Di lantai dasar
b)
Ruangan dengan prabotan sederhana
c)
Kurangi rangsangan/batasi rangsangan
lingkungan
d)
Suasana tenang
2. Hubungan perawat dengan klien
Hubungan yang saling percaya yang
terapetik perlu dibina dan diperhatikan.
Bekerja dengan klien depresi perawat harus bersifat:
1. Hanggat
2. Menerima
3. Jujur pengharapan
pada klien.
4. Bicara lambat
sederhana
5. Beri waktu pada
klien untuk berfikir dan menjawab.
3. Afektif
Kesadaran dan kontrol diri perawat
pada dirinya merupakan sarat utama. Merawat klien depresi, perawat harus
mempunyai harapan bahwa klien akan lebih baik, sikap perawat yang menerima
klien dengan baik, sederhana akan mengekspresikan pengharapan pada klien.
Prinsip intervensi yang afektif adalah:
1. Menerima dan
menenangkan klien
2. Bukan
menggembirakan atau mengatakan bahwa klien tidak perlu khawatir.
3. Klien di dorong
untuk mengekspresikan pengalaman yang menyakitkan dan menyedikan secara verbal,
sehingga akan mengurangi intensitas masalah yang dihadapi.
4. Kongnitif
Intervensi yang kongnitif bertujuan
untuk meningkatkan kontrol diri klien terhadap tujuan dan perilakunya,
meningkatkan harga diri dan memdbantu klien memodifikasi harapan yang negatif.
Berikut cara untuk meribah fikiran yang
negatif:
·
Identifikasi semua ide, pikiran yang negatif
· Identifikasi
aspek positif yang dimiliki klien (kemampuan, keberhasilan)
· Dorong klien
menilai persepsi,logika,rasional
· Bantu klien
mengubah persepsi yang salah/negatif ke ke positif dan tidak realitas ke realitas
·
Sertakan klien pada aktifitas yang
memperlihatkan hasil dan beri penguatan dan pujian akan keberhasilan yang
dicapai klien
5. Perilaku.
Intervensi perilaku bertujuan untuk
mengaktifkan klien pada tujuan yang realitas yaitu dengan memberi tanggung
jawab secara bertahap dalam kegiatan diruangan. Klien depresi berat dengan
penurunan motivasi perlu dibuat kegiatan yang terstruktur,tugas yang diberikan
tidak sulit dan tidak memerlukan waktu
yang lama untuk mencegah rasa bosan,berikan pujian jika klien berhasil
melakukan kegiatan dengan baik.pada klien mania diberikan tugas yang sederhana
dan cepat selesai.
6. Sosial
Intervensi sosial bertujuan untuk
meningkatkan berhubungan dengan sosial dengan cara
v Kaji
kemampuan,dukungan dan minat klien
v Observasi dan
kaji sumber dukungan yang ada pada klien
v Bimbing klien
melakukan hubungan interpersonal yang positif
v Beri
reinforcement positif terhadap keterampilan sosial yang efektif
v Dorong klien
memulai hubngan sosial yang lebih luas (perawat,klien lain ).
7. Fisiologis
Intervensi fisiologis bertujuan untuk
meningkatkan status kesehatan klien. Bila klien tidak mampu merawat diri, bantu
klien tidak mampu merawata diri,bantu klien memenuhi kebetuhan dasarnya seperti
makanan,minum istirahat dan kebersihan diri. Terapi somatik diberikan pada
klien yang mengalami depresi berulang dan resisten terhadap obat.
Evaluasi
Adanya perubahan respon emosi maladaptif
kearah adaptif, dimana klien dapat:
1. Menerima dan
mengakui perasaannya dan perasaan orang lain
2. Memulai
komunikasi
3. Mengontrol
perilaku sesuai keterbatasannya
4. Menggunakan
proses pemecahan masalah
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Bunuh diri adalah segala
perbuatan seseorang dnegan sengaja yang tahu akan akibatnya yang dapat
megakhiri hidupnya sendiri dalam waktu yang singkat. Stressor pencetus biasanya
merupakan kejadian memalukan, masalah interpersonal, dipermalukan didepan umum,
kehilangan pekerjaan, ancaman dikurung dan mengetahui cara bunuh diri.
Sedangkan faktor risiko dari bunuh diri adalah putus asa, ras, jenis kelamin
laki laki, hidup sendiri, memiliki riwayat bunuh diri, memiliki riwayat
keluarga dengan bunuh diri, penyakit kronis.
Gangguan alam perasaan adalah
kelainan psikologis yang ditandai meluasnya irama emosional seseorang, mulai
dari rentang depresi sampai gembira yang berlebihan (euphoria) dan gerak
yang berlebihan (agitation). Depresi dapat terjadi secara tunggal dalam
bentuk mayor depresi atau dalam bentuk lain seperti mania sebagai gangguan tipe
bipolar. Depresi terdapat klasifikasi dan tingkatan nya. Tanda dan gejala yang
timbul pada depresi bisa bermacam-macam karena tiap individu itu unik.
4.2 Saran
Sebagai tenaga kesehatan, khusunya perawat dan
mahasiswa keperawatan maka dalam kehidupan sehari hari bila terdapat individu dilingkungan
sekitar dengan tanda dan gejala yang menuju kepada respon maladaptif hendaknya
dapat diberikan pertolongan sehingga tidak terjadi hal hal yang tidak diharapkan
seperti adanya ganggan alam perasaan hingga bunuh diri.