CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Rabu, 02 Oktober 2013

TUGAS KEPERAWATAN MATERNITAS Mengenai perubahan kehidupan intrauterin dan ekstrauterin ; adaptasi fisiologis dan psikologis BBL ; serta masalah kesehatan pada bayi baru lahir (Down Syndrome)



1.     Perubahan kehidupan intrauterin dan ekstrauterin
Adaptasi neonatal merupakan proses penyesuaian fungsional neonatus dari kehidupan didalam uterus ke kehiduoan diluar uterus. Kemampuan adaptasi fisiologis ini disebut juga homeostasis. Homeostasis pada bayi merupakan :
·       Kemampuan mempertahankan fungsi fungsi vital
·       Bersifat dnamis
·       Dipengaruhi tahap tumbang, termasuk masa tumbang intrauterin. Pada bayi kurang bulan erdapat ganguan mekanisme adaptasi.
·       Kemampuan homeostasis pada neonatus berdasarkan usia kehamilan :
a.      Cukup bulan         :memadai
b.     Kurang bulan        :tergantung masa gestasi. Matriks otak belum sempurna, mudah terjadi pendarahan intrakranial. Angka kejadian sindrom gawat nafas neonatus dan hiperbilirubinemia tinggi
c.      Lewat waktu         :terjadi hambatan pertumbuhan jani intrauterin akibat penurunan fungsi plasenta, terjad plasenta, terjadi hipoksia janin.
Masa neonatus lebih tepat disebut masa adaptasi dari kehidupan intrauterine menuju kehidupan ekstrauterin dari berbagai sistem, seperti :
Mekanisme homeostasis bayi baru lahir :
              SISTEM
INTRAUTERIN
EKTRAUTERINE
A.Respirasi /Sirkulasi


1.       Pernafasan volunter
Belum berfungsi
Berfungsi
2.       Alveoli
Kolaps
Berkembang
3.       Vaskularisasi paru
Belum aktif
Aktif
4.       Intake oksigen
Tinggu, dari plasenta ibu
Rendah, dari paru
(bayi)
5.       Pengeluaran CO2
Di plasenta
Di paru
6.       Sirkulasi paru
Tidak berkembang
Berkembang banyak
7.       Sirkulasi sistematik
Resistensi perifer rendah
Resistensi perifer tinggi
8.       Denyut jantung
Lebih cepat
Lebih lambat
B. Saluran Cerna


1.       Absorbsi nutrein
Belum aktif
aktif
2.       Kolarisasi kuman
Belum
Segera
3.       Feses
Mekonium
Diatas hari keempat, feses biasa
4.       Enzim pencernaan
Belum aktif
aktif





2.     Adaptasi fisiologi dan psikologis bayi baru lahir

a.      Perubahan – perubahan fisiologi bayi baru lahir

·     Perubahan sistem pernafasan
 Upaya bernafas pertama seorang bayi berfungsi untuk :
1.Mengeluarkan cairan dlm paru – paru
2.Mengembangkan jaringan alveolus paru – paru untuk yang pertama kali
Agar alveolus dapat berfungsi, harus terdapat survaktan (lemak lesitin /sfingomielin) yang cukup dan aliran darah ke paru – paru. Produksi surfaktan dimulai pada 20 minggu kehamilan, dan jumlahnya meningkat sampai paru-paru matang (sekitar 30-34 minggu kehamilan). Fungsi surfaktan adalah untuk mengurangi tekanan permukaan paru dan membantu untuk menstabilkandinding alveolus sehingga tidak kolaps pada akhir pernapasan.
Tidak adanya surfaktan menyebabkan alveoli kolaps setiap saat akhir pernapasan, yang menyebabkan sulit bernafas. Peningkatan kebutuhan ini memerlukan penggunaan lebih banyak oksigen dan glukosa. Berbagai peningkatan ini menyebabkan stres pada bayi yang sebelumnya sudah terganggu.

·     Perubahan sistem kardiovaskular
Banyak perubahan besar yang terjadi pada sistem kardiovaskular pada bayi baru lahir, antara lain:
-        Penutupan foramen ovale
-        Penutupan duktus arteriosus
-        Denyut jantung BBL 120-180 kali/menit
-        Volume darah BBL berkisar 80 – 110 ml/kg

·     Perubahan sistem renal
Beberapa perubahan yang terjadi pada sistem renal pada bayi baru lahir antara lain :
-        Ginjal sudah berfungsi, tapi belum sempurna
-        Bayi baru lahir harus BAK dalam 24 jam pertama
-        Jumlah urine 20-30 ml/hari dan akan meningkat menjadi 100-200 ml/hari pada hari hari akhir minggu pertama
·     Perubahan pada sistem gastrointestinal
Perubahan yang terjadi pada sistem gastrointestinal pada bayi baru lahir adalah :
-        Kapasitas lambung bayi baru lahir adalah antara 30-90 ml
-        Pengosongan lambung akan terjadi antara 2-4 jam setelah pemberian makan

·     Perubahan pada sistem hepar
Hepar pada bayi baru lahir, berfungsi untuk :
a.      Penyimpanan zat besi
b.     Koagulasi
c.      Metabolisme KH
d.     Konjungasi bilirubin
Hepar pada bayi baru lahir belum matur untuk membentuk glukosa sehingga bayi baru lahir sering terkena hipoglikemi.

·     Perubahan pada sistem integumen
-      Semua struktur kulit sudah ada tapi belum matur.
-      Epidermis & dermis tidak terikat dengan erat dan sangat tipis
-      Verniks caseosa bersatu dengan epidermis
-      Bayi aterm memiliki kulit erithemathous
-      Kulit sering kelihatan berbintik & lurik-lurik
-      Tangan dan kaki sedikit sianosis (acrosianosis)
·     Perubahan pada sistem skeletal
-      Tubuh BBL kelihatan sedikit tidak proposional
-      Tgn sedikit lebih panjang dari kaki
-      Punggung BBL kelihatan lurus dan dapat ditekuk dengan mudah
-      BBL dpt mengangkat  & memutar kepala ketika menelungkup

·     Perubahan pada sistem reproduksi
Pada sistem reproduksi, pada bayi perempuan labia mayora & minora mengaburkan vestibulum dan  menutupi klitoris pada bayi perempuan. Sedangkan pada bayi laki laki, preputium biasanya tidak sepenuhnya tertarik masuk.

·     Perubahan pada sistem imun
Sistem imunitas bayi baru lahir masih belum matang, sehingga menyebabkan neonatus rentan terhadap berbagai infeksi dan alergi. Sistem imunitas yang matang akan memberikan kekebalan alami maupun yang di dapat. Kekebalan alami terdiri dari struktur pertahana tubuh yang mencegah atau meminimalkan infeksi. Berikut beberapa contoh kekebalan alami:
a. perlindungan oleh kulit membran mukosa
b. fungsi saringan saluran napas
c. pembentukan koloni mikroba oleh klit dan usus
d. perlindungan kimia oleh lingkungan asam lambung
Kekebalan alami juga disediakan pada tingkat sel yaitu oleh sel darah yang membantu BBL membunuh mikroorganisme asing. Tetapi pada BBL se-sel darah ini masih belum matang, artinya BBL tersebut belum mampu melokalisasi dan memerangi infeksi secara efisien. Kekebalan yang didapat akan muncul kemudian. BBL dengan kekebalan pasif mengandung banyak virus dalam tubuh ibunya. Reaksi antibodi keseluruhan terhadap antigen asing masih belum dapat dilakukan sampai awal kehidupa anak. Salah satu tugas utama selama masa bayi dan balita adalah pembentukan sistem kekebalan tubuh.
Defisiensi kekebalan alami bayi menyebabkan bayi rentan sekali terjadi infeksi dan reaksi bayi terhadap infeksi masih lemah. Oleh karena itu, pencegahan terhadap mikroba (seperti pada praktek persalinan yang aman dan menyusui ASI dini terutama kolostrum) dan deteksi dini serta pengobatan dini infeksi menjadi sangat penting.
·     Perubahan pada sistem neuromuscular
Pertumbuhan  otak sangat cepat dan membutuhkan glukosa dan  O2 yg adekuat. Refleks pada BBL:
            1. Refleks Moro / Peluk
            2. Refleks rooting
            3. Refleks menghisap & menelan
            4. Refleks batuk & bersin
            5. Refleks grasping
            6. Refleks stepping
            7. Refleks neck tonis
            8. Refleks babinski
3.     Masalah kesehatan bayi baru lahir (DOWN SYNDROME)
3.1  Definisi down syndrome
Sindrom Down merupakan kelainan genetik yang dikenal sebagai trisomi, karena individu yang mendapat sindrom Down memiliki kelebihan satu kromosom. Mereka mempunyai tiga kromosom 21 dimana orang normal hanya mempunyai dua saja. Kelebihan kromosom ini akan mengubah keseimbangan genetik tubuh dan mengakibatkan perubahan karakteristik fisik dan kemampuan intelektual, serta gangguan dalam fungsi fisiologi tubuh (Pathol, 2003).
Terdapat tiga tipe sindrom Down yaitu trisomi 21 reguler, translokasi dan mosaik. Tipe pertama adalah trisomi 21 reguler. Kesemua sel dalam tubuh akan mempunyai tiga kromosom 21. Sembilan puluh empat persen dari semua kasus sindrom Down adalah dari tipe ini (Lancet, 2003).
Tipe yang kedua adalah translokasi. Pada tipe ini, kromosom 21akan berkombinasi dengan kromosom yang lain. Seringnya salah satu orang tua yang menjadi karier kromosom yang ditranslokasi ini tidak menunjukkan karakter penderita sindrom Down. Tipe ini merupakan 4% dari total kasus (Lancet, 2003).
Tipe ketiga adalah mosaik. Bagi tipe ini, hanya sel yang tertentusaja yang mempunyai kelebihan kromosom 21. Dua persen adalah penderita tipe mosaik ini dan biasanya kondisi si penderita lebih ringan(Lancet, 2003).
3.2  Tanda dan gejala
Penderita dengan tanda khas sangat mudah dikenali dengan adanya penampilan fisik yang menonjol berupa bentuk kepala yang relatif kecil dari normal (microchephaly) dengan bagian anteroposterior kepala mendatar. Pada bagian wajah biasanya tampak sela hidung yang datar, mulut yang mengecil dan lidah yang menonjol keluar (macroglossia). Seringkali mata menjadi sipit dengan sudut bagian tengah membentuk lipatan (epicanthal folds). Tanda klinis pada bagian tubuh lainnya berupa tangan yang pendek termasuk ruas jari-jarinya serta jarak antara jari pertama dan kedua baik pada tangan maupun kaki melebar.
Pada bayi baru lahir kelainan dapat berupa congenital heart disease. kelainan ini yang biasanya berakibat fatal karena bayi dapat meninggal dengan cepat. Pada sistem pencernaan dapat ditemui kelainan berupa sumbatan pada esofagus (esophageal atresia) atau duodenum (duodenal atresia).
Apabila anak sudah mengalami sumbatan pada organ-organ tersebut biasanya akan diikuti muntah-muntah. Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kromosom melalui amniocentesis bagi para ibu hamil terutama pada bulan-bulan awal kehamilan. Terlebih lagi ibu hamil yang pernah mempunyai anak dengan sindrom down atau mereka yang hamil di atas usia 40 tahun harus dengan hati-hati memantau perkembangan janinnya karena mereka memiliki risiko melahirkan anak dengan sindrom down lebih tinggi.
3.3  Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kromosom melalui amniocentesis bagi para ibu hamil terutama pada bulan-bulan awal kehamilan. Terlebih lagi ibu hamil yang pernah mempunyai anak dengan sindrom down atau mereka yang hamil di atas usia 40 tahun harus dengan hati-hati memantau perkembangan janinnya karena mereka memiliki risiko melahirkan anak dengan sindrom down lebih tinggi. Sindrom down tidak bisa dicegah, karena DS merupakan kelainan yang disebabkan oleh kelainan jumlah kromosom. Jumlah kromosom 21 yang harusnya cuma 2 menjadi 3. Penyebabnya masih tidak diketahui pasti, yang dapat disimpulkan sampai saat ini adalah makin tua usia ibu makin tinggi risiko untuk terjadinya DS.Diagnosis dalam kandungan bisa dilakukan, diagnosis pasti dengan analisis kromosom dengan cara pengambilan CVS (mengambil sedikit bagian janin pada plasenta) pada kehamilan 10-12 minggu) atau amniosentesis (pengambilan air ketuban) pada kehamilan 14-16 minggu.
3.4  Pemeriksaan diagnostik
Untuk mendeteksi adanya kelainan pada kromosom, ada beberapa pemeriksaan yang dapat membantu menegakkan diagnosa ini, antara lain:
·         Pemeriksaan fisik penderita
·         Pemeriksaan kromosom
·         Ultrasonografi (USG)
·         Ekokardiogram (ECG)
·         Pemeriksaan darah (Percutaneus Umbilical Blood Sampling)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar